Kearifan Lokal di Era Digital

Kearifan Lokal di Era Digital

Hai, Sobat Pio! Di era digital yang serba terhubung oleh internet, media sosial, maupun kecerdasan buatan, kearifan lokal berperan sebagai pondasi nilai-nilai adat, tradisi, serta pengetahuan. Hal ini tidak hanya menghadapi tantangan baru, tetapi juga memilki peluang baru di era digital.
Salah satu dampak positif era digital adalah kemudahan dalam mendokumentasikan dan menyebarkan kearifan lokal. Platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram telah menjadi sarana bagi generasi muda untuk membagikan cerita lisan, tarian tradisional, atau resep masakan khas daerah. Misalnya, komunitas di Toraja memanfaatkan drone untuk memviralkan ritual Rambu Solo’ yaitu upacara pemakaman megah yang mencerminkan penghormatan kepada leluhur. Hal ini tidak hanya menarik wisatawan virtual, tetapi juga memperkenalkan anak muda yang tinggal dikota besar tentang akar budayanya. Selain itu, aplikasi seperti Google Arts & Culture telah mengarsipkan ribuan artefak digital dari museum-museum lokal, memungkinkan akses global terhadap batik atau ukiran-ukiran khas Indonesia tanpa merusak aslinya.
Namun, tantangan pun tak terelakkan. Globalisasi digital sering kali menciptakan homogenisasi budaya, dimana tren K-pop atau challenge viral mendominasi feed anak muda yang membuat kearifan lokal terpinggirkan. Di Papua misalnya, pengetahuan tentang tanaman obat tradisional seperti daun sirih Papua yang kaya antioksidan terancam punah karena kurangnya dokumentasi digital yang autentik. Fenomena deepfake dan konten AI-generated juga berpotensi memalsukan ritual suci seperti tarian Saman Aceh, sehingga merusak keaslian. Lebih lanjut, kesenjangan digital dimana hanya 70% penduduk Indonesia memiliki akses internet stabil per 2024 membuat masyarakat pedesaan tertinggal, sehingga memperlemah transmisi pengetahuan antargenerasi.
Untuk mengatasi ini, diperlukan strategi integratif pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dapat mengembangkan platform digital nasional khusus kearifan lokal, seperti aplikasi “Wisata Budaya Virtual” yang menggabungkan VR dengan narasi storyteller asli. Pada akhirnya, dengan kita memadukan teknologi dan nilai leluhur, Indonesia dapat memperkaya dunia dengan keberagaman budayanya. Kearifan lokal yang adaptif akan memastikan generasi mendatang yang tidak hanya bertahan, namun juga berkembang di tengah era digital.(RED_AAP)
Sumber : https://www.kompasiana.com/