Idul Adha Pada Masa Pandemi


Hai Sobat Pio, besok udah hari raya lagi nih. Yups, Hari Raya Idul Adha 1441 H yang jatuh pada tanggal 31 Juli 2020. Tapi karena Covid-19, Idul Adha kali ini berbeda dengan sebelumnya. Terus gimana dong suasana Idul Adha kali ini? Apa aja sih yang beda? untuk lebih jelasnya simak pembahasan berikut ini.

Idul adha adalah hari raya umat Islam yang diperingati sebagai peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya untuk disembelih. Kemudian Allah SWT menggantikan putra nabi Ibrahim dengan seekor domba untuk disembelihnya. Hari Raya ini bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, yaitu pada bulan Dzulhijjah.

Perbedaan Idul Adha tahun ini lumayan banyak.  Mulai dari pelaksanaan ibadah haji, sholat Idul Adha, dan penyembelihan kurban. Tahun ini Arab Saudi membatasi jumlah jemaah haji dan juga menutup Masjidil Haram saat Hari Arafah dan Hari Raya Idul Adha. Sedangkan di Indonesia, menurut fatwa MUI pelaksanaan Idul Adha Tahun ini harus sesuai protokol kesehatan dan peraturan perundang – undangan.

Pelaksanaan salat Idul Adha harus sesuai dengan protokol kesehatan, pengurus atau penyelenggara harus menyediakan keperluan seperti sabun dan air untuk cuci tangan, serta menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan tetap jaga jarak.

Untuk pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, panitia kurban menghimbau  kepada umat Islam yang tidak terkait langsung dengan proses pelaksanaan kurban supaya tidak berkerumun menyaksikan proses pemotongan hewan.

“Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan protokol kesehatan dalam menjalankan ibadah kurban agar dapat terlaksana sesuai dengan ketentuan syari’at Islam dan terhindar dari potensi penularan Covid-19,” demikian tertulis dalam bagian lain fatwa tersebut.

Ibadah kurban juga dapat dilakukan dengan cara taukil, yaitu orang yang ingin berkurban memberikan sejumlah uang untuk membeli hewan kurban, merawat, meniatkan, menyembelih, dan membagikan daging kurban. Tetapi kita juga harus mempercayakannya kepada lembaga atau seseorang yang bisa dipercaya dan sesuai syari’at.

Jadi, pembahasan kali ini hanya seputar itu ya Sobat Pio. Jangan lupa untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mematuhi himbauan pemerintah ya. Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga kita terhindar dari sifat hewani dan senantiasa taat pada Allah Swt. (RED_MNR&SBI)

 

 

Sumber : https://m.bisnis.com

https://amp.kompas.com

 

 

Semangat Ramadan Ditengah Pandemi Corona


Hai Sobat Pio, bagaimana kabarnya hari ini? Pastinya sehat selalu ya. Nah Sobat Pio, sekarang ini kita sudah memasuki bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah bulan suci yang dinantikan oleh umat islam di seluruh dunia. Bulan Ramadan merupakan kesempatan bagi kita untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena di bulan suci ini memiliki keutamaan yang berbeda dari bulan – bulan sebelumnya.

Namun bulan Ramadan tahun ini berbeda, karena sekarang kita menjalankan ibadah puasa ramadan di tengah wabah pandemi corona. Selain itu aktivitas beribadah juga dianjurkan dilakukan di rumah saja, karena kita harus menaati peraturan pemerintah untuk menjaga jarak dengan orang lain atau physical distancing. Walaupun Ramadan tahun ini berbeda, kita harus tetap semangat dalam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan ini.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari bulan suci Ramadan tahun ini. Salah satunya adalah sebagian dari kita bisa berkumpul bersama dan lebih memiliki banyak waktu untuk melaksanakan ibadah puasa bersama dan hal – hal yang lainnya bersama keluarga. Tetapi, sebagian dari kita ada yang tidak bisa melaksanakan ibadah puasa bersama keluarga karena berada di luar kota dan tidak bisa pulang kampung karena pemerintah melarang kita untuk mudik. Namun, hal itu bukan berarti membuat kita tidak semangat dalam menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Nah Sobat Pio sekian dulu artikel kali ini. Semoga Sobat Pio diberi kesehatan dan selalu semangat dalam menjalani ibadah puasa di tengah pandemi corona ini. Semoga pandemi corona ini cepat berlalu supaya kita semua bisa merayakan hari raya dengan berkumpul bersama keluarga dan teman – teman. (RED_NLS)

Sumber : https://thr.kompasiana.com

Ramadan Yang Berbeda


Hai sobat pio gimana kabarnya nih? Semoga selalu sehat ya. Pasti sobat pio tau saat ini umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sudah memasuki bulan Ramadan mulai Jumat, 24 April 2020. Namun, menjalani ibadah puasa kali ini dirasa berbeda karena berlangsung di tengah pandemi COVID-19. Meskipun pandemi masih berjalan, umat Islam harus tetap menjaga kesehatan badan dan pikiran agar khusyuk menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, ada beberapa tradisi yang biasa dilakukan di bulan puasa yang sekarang tidak bisa kita jalani. Seperti buka puasa bersama, salat tarawih di masjid, ziarah ke makam anggota keluarga, berkunjung ke rumah orangtua dan kerabat, ngabuburit, berburu takjil dan masih banyak lagi. Hal ini tentu saja membuat puasa kita kali ini kurang lengkap, karena adanya pandemi COVID-19 ini. Pandemi COVID-19 memang membuat banyak hal dibatasi di bulan Ramadan ini. Berbagai kebiasaan dan tradisi mungkin tak bisa kita lakukan untuk sementara waktu, tapi mudah-mudahan tidak mengurangi nilai ibadah puasa kita. Menjaga kesehatan tetap yang terpenting, sambil berharap dan berdoa semoga pandemi ini segera berlalu.

Nah, segitu saja artikel kali ini semoga sobat pio senantiasa sehat dan semangat dalam menjalani puasanya. Dan semoga pandemi COVID-19 ini cepat teratasi agar kita bisa kembali menjalani aktivitas seperti sedia kala. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat pio. Marhaban ya Ramadan.(RED_ADS)

Sumber : https://m.liputan6.com

Apakah Menolak Hujan itu Berarti Menolak Rahmat dari Allah?


Hai sobat pio, tau gak sih kita secara tidak sadar seringkali menolak hujan, lo. Seperti saat dalam perjalanan ataupun hujan datang di kala waktu yang tidak tepat. Tetapi, ada beberapa orang yang berkata “Eh, jangan menolak hujan! Hujan kan rahmat. Dosa menolak rahmat Allah”. Begitu kurang lebih ungkapan yang mungkin pernah kita dengar, saat ada yang berdoa atau menyatakan berharap agar hujan tidak turun. Tapi, benarkah kalau berdoa agar hujan tidak turun sama saja dengan menolak rahmat Allah?

Jadi gini sobat pio, berdoa agar hujan berhenti turun tidaklah dilarang. Doa menolak hujan tidaklah selalu berarti menolak nikmat dari Allah berupa turunnya hujan. Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menerangkan, bahwa dianjurkan berdoa agar hujan berhenti turun saat sudah turun hujan terlalu banyak, yang dapat berpotensi menimbulkan dampak buruk.  Kalau doa menolak hujan bukan menolak nikmat Allah, lalu menolak apa? Jawabannya adalah menolak hal buruk yang disebabkan oleh hujan.

Oleh karena itu, berdoa agar hujan berhenti hendaknya jangan dengan ungkapan yang mengisyaratkan meminta agar hujan berhenti sama sekali. Sebab, bisa saja bagi seorang pendoa hujan yang turun padanya adalah termasuk bencana. Sedang bagi orang lain itu adalah nikmat yang luar biasa. Alhasil berharap agar hujan tidak turun atau berdoa menolak hujan tidaklah sepenuhnya berarti menolak rahmat Allah sehingga, sudah pasti dilarang. Diperbolehkan berharap atau berdoa agar Allah menghindarkan kita dari bahaya atau kerugian sebab hujan.

Oleh karena itu, bila khawatir hujan menghalangi lancarnya keperluan kita, maka cukup berdoa atau berharap agar Allah memberi kelancaran terhadap keperluan kita meski dalam keadaan kurang memungkinkan. Selanjutnya, biar Allah yang mengatur jalannya kelancaran urusan kita tersebut. Sesungguhnya, Allah kuasa memberi rizki dari jalan yang tidak diperkirakan sebelumnya. (RED_EAP)

 

Sumber : https://islami.co/berdoa-agar-hujan-tidak-turun-apakah-itu-menolak-rahmat-allah/

Pahala Yang Paling Susah Dicari Tapi Mudah Didapatkan


Pahala bisa dikatakan sebagai pondasi agama. Ia mewarnai seluruh bangunan agama, mulai dari bangunan paling megah hingga yang paling biasa.  Semenjak kecil kita sudah dikenalkan pada perbuatan yang membuahkan pahala, juga sebaliknya yang mengakibatkan dosa. Pahala ini pula lah yang dijadikan dasar guru-guru agama kita buat menerangkan apa yang wajib, haram, sunnah, makruh, ataupun mubah. Ketika Bulan Ramadan, pahala menjadi semacam keseharian yang spesial dalam majelis-majelis keagamaan. Tak henti-hentinya kita mendengar betapa istimewa pahala yang dilimpahkan di bulan itu, yang berbeda dari hari-hari biasa. Jika pada hari biasa setiap kebajikan dijanjikan pahala sepuluh kali lipat (al-hasanatu bi ‘asyri amtsâliha) maka, pada Bulan Ramadan pahala yang diturunkan tak terkira agungnya seperti pengampunan segala dosa yang telah lalu (ghufira lahu mâ taqaddama min dzanbih). Jadi, dapatlah kita saksikan perbuatan mengejar pahala dilakukan orang tidak seperti biasanya. Jamaah tarawih digelar tak hanya di masjid dan musola, tapi juga di perkantoran. Lantunan ayat al-Quran tak hanya menggema dari sudut kamar, tapi di radio hingga televisi, dari loud speaker masjid besar hingga musola kecil di sudut kampung.

Sedekah tak hanya dilakukan diam-diam, tapi diundanglah ratusan anak yatim-piatu dalam macam-macam pentas amal. Semua seakan sedang merayakan panen pahala, sebuah momen yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Namun, di tengah hiruk pikuk itu, kita seolah dipaksa untuk melupakan satu pertanyaan yaitu: “Apakah perbuatan yang di mata kita berpahala itu benar-benar memiliki nilai pahala yang hakiki?” Rasulullah pernah ditanya, tak hanya sekali tapi beberapa kali dengan penanya yang berbeda, tentang sebuah perbuatan yang paling utama, yang paling dicintai Allah. Tapi, setiap orang yang berbeda, berbeda pula jawaban yang diberikan.

Suatu ketika, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Perbuatan apa yang paling utama, ya Rasul?” Rasul menjawab, “Salat tepat waktu.” “Kemudian apa?” lelaki itu masih bertanya. “Bakti kepada orangtua.” “Kemudian apa?” “Jihad fi sabilillah.” Kalau pahala yang diburu, jawaban Rasulullah tentu akan di maknai bahwa perbuatan yang paling besar pahalanya adalah salat tepat waktu, baru kemudian bakti kepada orangtua, lalu jihad. Lalu di suatu ketika saat seorang lelaki yang berbeda bertanya  “Perbuatan apa yang paling utama, ya Rasul?” tanyanya. Kemudian Rasulullah menjawab “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” “Kemudian apa?” “Jihad fi sabilillah,” kata Rasul. “Kemudian apa?” “Haji mabrur.” Lihatlah, salat tepat waktu malah tidak disebut dalam jawaban Rasul kali ini. Di sini pun, haji mabrur, yang merupakan satu rukun Islam, diletakkan setelah jihad yang bukan merupakan rukun Islam. Di saat lain, Rasulullah bahkan tidak menyebut jawaban jihad fi sabilillah. Saat itu seorang lelaki menanyakan, “Perbuatan islami seperti apa yang paling baik, ya Rasul?” Jawaban Rasulullah sungguh di luar dugaan. Beliau tidak menyebut salat tepat waktu, haji mabrur, ataupun jihad. Apa jawab Rasul? “Engkau berilah makan orang, dan kirimlah salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal”.(RED_ME)

 

Sumber : https://islami.co/

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 2 Kediri


Hai sobat pio, kalian pasti tau kan tentang Maulid Nabi Muhammad SAW? Ya Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW di Indonesia yang perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Bukan lagi sebuah kesemarakan seremonial belaka, tetapi perayaan Maulid Nabi Muhammad adalah sebuah momen spiritual untuk mengingatkan kita jika beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati, dan pandangan hidup kita dari zaman yang gelap ke zaman yang terang benderang sampai saat ini. Dan kali ini di SMKN 2 Kediri mengadakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 14 November 2019 yang bertema kan MABRUK OF ROSUL yang berarti kelahiran Rosul. Acara tersebut berlangsung meriah dengan bebarapa lomba yaitu KIR (Karya tulis Ilmiah Remaja), Kaligrafi, dan Lomba kiroah. Siswa-siswi juga sangat antusias mengikuti acara tersebut, siswa yang check in pertama juga mendapatkan doorprize. Selain itu ada beberapa penampilan yang disajikan dalam acara tersebut yang pertama yaitu itu ada habsy lalu dilanjutkan dengan penampilan siswa-siswi dari SMKN 2 Kediri dan yang terakhir adalah bintang tamu nasyid ELLFAZELA dari MAN 2 Kota Kediri yang mendapat sambutan baik dari para siswa. selanjut acara setelah dhuhur yaitu ada sholawat diba’ lalu, maulid  berjanji, maulidhoh hasanah, dan terakhir mahalul qiyam. Acara yang berlangsung dari jam 08.30-15.00 tersebut berlangsung menyenangkan dan tentunya membawa banyak hikmah. Jadi kesimpulannya sobat pio, dengan diadakannya acara-acara seperti itu di sekolah atau di manapun dapat menambah kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW. (RED_EAP)

 

Narasumber : Larasati (XI AKL 5)

Penggagas Istilah “Halalbihalal”


Hai sobat pio, apa kalian tahu asal mula halalbihalal itu dari mana sih? Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang asal mula halalbihalal di Indonesia.

Pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII dan PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. Kata Kiai Wahab. “Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah ‘Halalbihalal’.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi yang diberi judul ‘Halalbihalal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Jadi sobat pio, sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halalbihalal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadilah halalbihalal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang. (RED_EAP)

Sumber : http://www.nu.or.i

Mengisi Dengan Hal Positif


   

     Hai sobat pio! Apa kabar? semoga baik-baik saja yaa. Bagi sobat muslim pasti sudah tau kalau tanggal 03 April 2019 merupakan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang ke-1440 Hijriah. Isra’ Mi’raj sendiri merupakan Peristiwa penting bagi umat islam, dalam peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu. Nah, untuk mengenang peristiwa tersebut, di bulan Rajab ini Osis SMK Negeri 2 Kediri mengadakan kegiatan yang positif. Kegiatan positif ini mengusung tema “TEWAS” yang artinya “Tegakkan Wajibmu Amalkan Sunnahmu”. Salah satu kegiatan positif tersebut adalah Lomba Musikalisasi Asmaul Husna.
     Bagaimana berjalannya Lomba Musikalisasi Asmaul Husna tersebut?? Lomba ini diadakan hari Jum’at tanggal 05 April 2019 di Aula SMK Negeri 2 Kediri, lomba diikuti oleh kelas X semua jurusan. Setiap jurusan mengirim perwakilan tim sebanyak 3-5 anak, adapun jurinya yaitu bapak Anam dan Bu Warda selaku Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Kriteria penilaian dalam lomba ini antara lain keseluruhan penampilam, kreatifitas dalam mengcover lagu, ketepatan waktu, keserasian intonasi dalam lafadz Asmaul Husna, dan aksi panggung.
     Nah sobat, untuk juaranya yaitu juara 1 dan 2, pemenang yang mendapat juara 1 akan tampil lagi  di peringatan Isra’ Mi’raj yang ke-2 atau puncaknya kegiatan yaitu hari Jum’at tanggal 12 Apri 2019 tempatnya tetap di Aula, jadi sobat hari ini peringatan Isra’ Mi’raj ke-1, untuk yang belum mendapatkan juara jangan besedih hati tetap semangat okee. Oh iya, peringatan Isra’ M’raj ke-2 nantinya bersama KH. Abu Bakar Abdul Jalil (GUS AB) dan Alfina Nindiyani, serta rangkaian lain, yang pasti memberikan kesan positif bagi kita semua untuk meningkatkan iman dan takwa, namun kegiatan ini tidak untuk umum. Sekian dulu ya sobat, semoga bermanfaat, sampai jumpa lagi, jangan lupa hadir yaa. (RED_DAA)

Sumber: Pipit Wahyu Ningsih Siswa SMKN 2 Kediri

Larangan Perayaan Hari Nairuz


     Hai sobat pio! Apa kabar, pasti baikan. Nah pada artikel kali ini kita membahas mengenai Larangan Merayakan hari Nairuz atau Tahun baru non-muslim. Sebelumnya, kalian tau tidak kenapa dilarang?...Terdapat hadits mengenai larangan merayakan hari raya non-muslim yaitu Nairuz dan Mihrajan yang merupakan hari raya orang kafir saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang di Madinah. Saat itu mereka mempunyai kebiasaan merayakan hari Nairuz dan mihrajan. Nairuz adalah hari di awal tahun baru masehi (syamsiyyah) versi Majusi, sedangkan Mihrajan hari raya 6 bulan setelahnya. Mendapati fenomena ini saat di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa umat Islam sudah mempunyai dua hari raya yaitu ‘iedul Fithri dan ‘Iedul Adha, tidak perlu ikut-ikutan merayakan hari raya tersebut.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,
لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun untuk mereka biasa bersenang-senang saat itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, beliau bersabda,
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.”[1]
Sahabat ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiallaahu ‘anhuma berkata,
“Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam (negeri kafir), meramaikan hari raya Nairuz dan Mihrajan (perayaan tahun baru mereka), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”
     Hari Nairuz adalah hari raya tahun baru orang Majusi menurut perhitungan kalender masehi (pergiliran matahari). Masyarakat kota madinah saat itu ikut-ikutan merayakan hari raya Majusi tersebut. Beberapa kamus Arab menjelaskan definisi Nairuz, semisal kamus AL-Lughah Al-Arabiyyah AL-Mu’aashir dijelaskan,
“Nairuz adalah hari pertama pada tahun syamsiyyah versi Persia (bangsa Majusi saat itu).”
Adz-Dzahabi juga menjelaskan bahwa Nairuz ini juga ikut-ikutan dilakukan oleh penduduk Mesir saat itu, beliau berkata,
“Adapun hari Nairuz, penduduk Mesir berlebih-lebihan melakukan dan merayakannya. Nairuz adalah hari pertama pada tahun Qibhti yang mereka menjadikannya sebagai hari raya (diperingati setiap tahun), kemudian kaum muslimin mengikuti mereka (tasyabbuh).”
Demikian juga dengan tahun baru masehi saat ini, bukan perayaan kaum Muslimin dan jelas itu adalah perayaan non-muslim serta memiliki sejarah yang terkait dengan agama kuno Romawi.
     Dalam buku “The World Book Encyclopedia” vol.14 hal.237 dijelaskan: “Semenjak abad ke 46 SM raja Romawi julius caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun. Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada janus, dewa segala gerbang pintu-pintu dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama janus sendiri,yaitu dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”.
Kita sebagai kaum muslimin tentu dilarang untuk ikut-ikutan merayakan hari raya mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”
Kita juga diperintahkan agar tidak tasyabbuh dengan orang Romawi dan Persia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“
Allah melarang kita menghadiri dan ikut-ikutan perayaan hari raya orang musyrik.
Allah berfirman
”Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS al-Furqan : 72). Semoga tidak ada kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun baru non-muslim.
     Nah itu tadi sobat artikel mengenai Larangan perayaan hari Nairuz,  semoga menambah pengetahuan dan semoga kita selalu berada dilindungan Allah SWT. Aminn

RED_U
sumber: muslim.or.id

Mengutip Hikmah di Balik Gempa


     Apa kabar sobat pio? Semoga sehat selalu ya, kemarin Indonesia kita sedang dilanda bencana dan banyak korban juga, kali ini kita akan membahas tentang apa hikmah dari bencana kemarin, simak baik-baik ya, nah sudah banyak diketahui bahwa Indonesia adalah wilayah yang rawan gempa. Pada hari Ahad, 29/07/2018 pun terjadi gempa bumi 6,4 SR di Lombok. Disusul pada 28/09/2018 pun terjadi kembali di Palu dan Donggala. Dalam buku “Bencana Alam dan Bencana Anthropogene” (Sukandarrumidi, 2010: 27) disebutkan bahwa “Wilayah Indonesia berlokasi di kawasan yang rawan gempa. Indonesia terletak pada lajur sumber gempa yang membentang sepanjang tidak kurang dan 5.600 km.” Maka sudah seharusnya selain antisipasi sejak dini- fenomena alami ini mesti diambil hikmahnya.
 
Hikmah di balik terjadinya gempa
·        1.  Gempa sebagai media untuk intropeksi diri.
Segala yang terjadi di alam -menurut paradigma agama Islam- pada dasarnya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang perlu dijadikan sebagai media untuk mengintrospeksi diri.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Shafiyah bahwa pernah terjadi gempa di Madinah pada zaman Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Beliau pun berceramah yang mengandung bahan introspeksi bagi umat Islam kalaitu. Bisa jadi kata Umar gempa bumi terjadi akibat perbuatan maksiat yang dilakukan.
Imam Ibnu Al-Qayyim dalam “al-Jawaab al-Kaafi” (1418: 47) menandaskan bahwa terjadinya gempa hanyalah ketika maksiat dilakukan. Maka, tanda-tanda dari Allah ini perlu untuk dijadikan evaluasi diri.
·        2.  Momentum untuk bertaubat kepada Allah.
Jika umat menginsafi diri dan merasa masih banyak kemaksiatan yang dilakukan, maka gempa bumi sebagai peringatan untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Menurut riwayat Ibnu Abi Syaibah, pernah terjadi gempa di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihiwasallam. Melihat peristiwa itu beliau menganjurkan umatnya untuk kembali (bertaubat) kepada Allah.
Pada Surah Al-A’rafayat 155 disebutkan bahwa saat Musa ‘Alaihissalammemilih 70 orang dari kaumnya untuk bertaubat; dan saat mereka ditimpa gempa bumi, maka yang dilakukan Nabi Musa ‘Alahissalam segera mengingat Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Imam Thabari dalam tafsirnya “Jaami’ al-Bayaan” (1420: 17/478) mengatakan bahwa terjadinya bencana supaya manusia mau untuk mengambil pelajaran, mengingat Allah dan kembali kepada-Nya. Pada zaman Ibnu Mas’ud, di Kufah pernah terjadi gempa. Maka seketika itu juga Ibnu Mas’ud menyerukan agar orang-orang kembali (bertaubat) kepada Allah Subhanahuwata’ala.
·         3. Sebagai pemantik diri untuk memperbanyak amal
Salah satunya seperti: sedekah. Ibnu Qayyim Rahimathullah dalam “al-Jawaab al-Kaafi” (47) menyebutkan bahwa pernah terjadi gempa di masa Umar bin Abdul Aziz. Beliau pun menulis surat keberbagai negeri kekuasaannya agar di samping taubat, agar bersedekah dan mengingat Allah.
Beliau berlandaskan pada ayat, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) [14] dan dia ingat namaTuhannya, lalu dia sembahyang [15]” (QS. Al-A’la [87]: 14, 15)
·        4. Sarana efektif untuk mempertebal keimanan dan menjauhkan diri dari mendustakan ayat-ayat Allah.
Kaum Nabi Syu’aib ‘Alahissalam sebagaimana termaktub dalam surah Al-A’rahayat 78 dan 91 dan Al-Ankabut ayat 37 menunjukkan bahwa mereka di siksa oleh Allah di antara sebabnya adalah ada masalah serius pada keimanan mereka dan mereka mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahuwata’ala.
·     

5. Sebagai media paling jitu untuk mengingat terjadinya hari kiamat.
              Dunia dengan berbagai keindahannya pada akhirnya akan hancur ketika kiamat tiba. Surah Al-Zalzalah ayat 1-8 adalah gambaran penting terjadinya kiamat dengan gempa maha dahsyat. Pada saat itu manusia panik, ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.
Menariknya, di akhir ayat kejadian kiamat yang ditandai dengan gempa yang begitu dahsyat ini semestinya membuat orang di samping ingat kiamat, mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Orang yang beramal kebaikan akan menjumpai kebaikannya di akhirat dan yang berbuat keburukan, akan menjumpainyajuga di akhirat walau sekecil apapun.
Menurut riwayat Bukhari, kiamat tidak akan terjadi sebelum terjadi salah satunya tanda ini:
وَتَكْثُرَالزَّلَازِلُ
“Dan banyak terjadi gempa”.
Dengan demikian, maka gempa yang terjadi sebagai sarana untuk mengingat kiamat sehingga bisa mempersiapkannya dengan baik.
Jadi, hikmah di balik gempa di antaranya untuk media introspeksi diri, momentum untuk bertaubat kepada Allah, pemantik kesadaran untuk memperbanyak sedekah, sarana efektif untuk mempertebal keimanan dan media paling jitu untuk mengingat kiamat sekaligus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Iya itu tadi merupakan apa sih hikmah dari suatu bencana? Bagaimana sobat pio, akankah kita akan selalu pada ke jalan yang benar agar terlindungi dari berbagai bencana dari Allah swt.? Sekian dulu ya sobat pio, semoga membantu.

Sumber : www.suaramuslim.com