Hukum Ghibah Menurut Islam


Hai, Sobat Pio! Kali ini kita akan membahas hukum ghibah. Hayo, Sobat Pio suka ghibah atau tidak? Kira-kira hukumnya apa, sih? Yuk, kita simak!

Ghibah atau gosip adalah membicarakan perilaku orang lain, biasanya terkait dengan hal-hal yang negatif. Lalu, bagaimana hukum ghibah? Menurut Ulama, hukum ghibah ada 3, yaitu:

  1. Haram

Hukum gosip dikatakan haram ketika mengatakan aib sesama muslim yang telah dirahasiakan. Aib yang berkaitan dengan bentuk fisik maupun perilaku yang berkaitan dengan duniawi maupun agama. Juga, ghibah termasuk haram bukan hanya bagi pembawa gosip, namun juga bagi pendengar yang mendengarkan dan mengakuinya. Sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar.

Dalil tentang hukum haram ghibah :

وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Hujurat : 12)

  1. Boleh

Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin 2/182 membagi gosip atau ghibah yang dibolehkan menjadi enam sebagai berikut:

  1. At-Tazhallum, orang yang terzalimi boleh menyebutkan perbuatan orang yang menzaliminya. Tentunya hanya bersifat pengaduan kepada orang yang memiliki qudrah (kapasitas) untuk melenyapkan kezaliman.
  2. Isti’ānah (meminta pertolongan), untuk merubah atau menghilangkan kemunkaran, seperti mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemungkaran: “Fulan telah berbuat begini (perbuatan buruk). Cegahlah dia.”
  3. Al-Istifta’ (meminta fatwa) atau nasihat seperti perkataan peminta nasihat kepada mufti (pemberi fatwa): “Saya dizalimi oleh ayah atau saudara, atau suami.”
  4. At-tahdzīr lil muslimīn (memperingatkan orang-orang Islam) dari perbuatan buruk dan memberi nasihat pada mereka.
  5. Orang yang menampakkan kefasikan dan perilaku maksiatnya. Seperti menampakkan diri saat minum miras (narkoba), berpacaran di depan umum, dll.
  6. Memberi julukan tertentu pada seseorang. Apabila seseorang dikenal dengan julukan

 

  1. Wajib

Adakalanya menyebut aib orang lain itu wajib, namun dalam situasi di mana dirinya bisa menyelamatkan seseorang dari sesuatu yang berpotensi kurang baik. Misalnya, ketika salah seorang memberitahu sahabatnya bahwa sahabat temannya hendak mencuri barangnya, dan sebagainya.

Dalil tentang hukum wajib ghibah

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Artinya: “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S An-Nisa 4:148)

Sobat Pio, tentunya sekarang sudah tahu hukum ghibah. Seperti yang sudah kita simak. Mulai sekarang kita harus bisa memilah mana ghibah yang wajib, haram maupun boleh. Jadi, dari sini yang dulunya suka ghibah yang dapat menimbulkan dosa segera dihentikan, ya! ( RED_MNR&SBI)

 

Sumber : https://www.alkhoirot.net/

Amalan Ringan dengan Pahala Besar


Hai, Sobat Pio! Gimana kabarnya? Semoga kita selalu dalam lindungan serta rahmat  Allah Swt. Kali ini kita akan membahas amalan ringan yang berpahala besar. Mari kita simak bersama-sama.

Banyak sekali amalan sederhana yang dapat dilakukan dan mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang. Namun, tanpa disadari amalan-amalan tersebut memiliki manfaat dan menjadi sumber pahala besar. Kira-kira Sobat Pio tahu tidak amalan apa saja itu? Amalan itu terdiri dari:

1. Berdzikir. Dzikir memanglah amalan yang sederhana tetapi melakukan dzikir dengan khusyu’ dan sungguh-sungguh merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Dzikir “Subhânallâh wa bihamdihi, Subhânallahil ‘azhîm”. Dari Abu Hurairah ra. Nabi beliau bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan,”

2. Membaca ayat kursi selepas shalat dan hendak tidur. Abu Umamah al-Bahily  ra. berkata, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, niscaya tidak ada yang menahannya masuk  melainkan kematian” (H.R. an-Nasâi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Shahih al-Jami’, no. 6464)

3. Bersholawat atas Nabi. Dari Anas bin Malik ra. berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat atasku satu shalawat maka niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh shalawat, dihapuskan darinya sepuluh dosa dan diangkatkan untuknya 10 tingkatan.” (H.R. an-Nasâi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’, no. 6359)

4. Membaca Al-Qur’an. Dari Abdullah bin Mas’ud ra. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi 10 kali….” (H.R. at-Tirmidzi, ath-Thabrani dan dinilai shahih oleh al-Albani)

5. Sebelum subuh lakukan sholat Sunnah dua rakaat. Dari ‘Aisyah i, Nabi  bersabda, “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” (H.R. Muslim)

6. Menjawab adzan dan membaca doa setelah adzan. Dari Jabir bin Abdillah ra. Nabi bersabda, “Barang siapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca do’a yang artinya (Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau ke tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya) maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (H.R. Bukhari)

Nah Sobat Pio, amalan-amalan ringan diatas dapat sobat amalkan agar mendapatkan pahala sekaligus melaksanakan Sunnah. Sobat Pio, manfaatkanlah waktu dengan baik agar hidup lebih bermanfaat. Mari terapkan amalan-amalan diatas pada kehidupan sehari-hari dan jangan lupakan amalan wajibnya ya. (RED_MNR&RAA)

Sumber : https://dppai.uii.ac.id

Peringatan Maulid Nabi


Hai, Sobat Pio! Kalian ingat tidak ini hari apa? Tentunya kalian ingat dong? Hari ini adalah peringatan Maulid Nabi. Tepatnya tanggal 12 Rabi’ul Awal 1442 H yang bertepatan tanggal 28 Oktober 2020 M. Nah, kebetulan di edisi kali ini kita akan membahas Maulid Nabi Muhammad SAW. Mari kita simak.

Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal di Kota Mekah. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Sang ayah meninggal dunia sebelum Nabi Muhammad lahir dan ibunya mengembuskan napas terakhir saat Nabi berusia 6 tahun. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir Rasulullah SAW. Peringatan ini diharapkan mampu menjadi momentum untuk membangkitkan semangat dan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW.

Di Indonesia sendiri sejarah Maulid Nabi Muhammad dikembangkan dan disebar luaskan oleh Wali Songo sekitar tahun 1404 M. Peringatan tersebut bertujuan menarik hati masyarakat untuk memeluk agama Islam. Maka dari itu, Maulid Nabi juga dikenal dengan nama peringatan Syahadatin. Selain itu, perayaan ini juga dikenal dengan Grebeg Mulud karena cara masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan menggelar upacara Nasi Gunungan.

Berikut beberapa hikmah memperingati Maulid Nabi, diantaranya yaitu :

  1. Mendorong orang untuk senantiasa bersholawat.
  2. Ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba).

3.Meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan kita.

4.Melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah dan para Nabi. Sesaat sebelum mengembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang amat dicintainya ini.

Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw :

مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ

“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”.

Dalam sebuah hadits dikatakan :

مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ

“Barang siapa yang memuliakan / memperingati hari kelahiranku maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah.”

Jadi begitu, Sobat Pio sejarah dan beberapa hikmah memperingati Maulid Nabi. Maka dari itu kita sebagai umat muslim harus meneladani perilaku dan perbuatan Rasulullah dalam memperingati hari lahir Rasulullah dengan hal yang positif dan mulia.(RED_MNR&SBI)

Sumber : https://news.detik.com

https://www.kompasiana.com

Puasa Ayyamul Bidh


Hai Sobat Pio! Kalian pasti sudah sering dengar kan apa itu puasa Ayyamul Bidh? Yap, puasa yang dilakukan pada pertengahan bulan Hijriah, yaitu tanggal 13-15 setiap bulan dan puasa ini hukumnya sunnah ya. Kita dianjurkan untuk melakukan puasa ini, selama 3 hari.

Dalam bahasa Arab, “Ayyamul Bidh” artinya “hari-hari putih”. Mengapa demikian? Karena pada momen puasa Ayyamul Bidh, rembulan sedang dalam keadaan purnama yang terang benderang sehingga dinamakan puasa di hari-hari putih (Ayyamul Bidh).

Puasa Ayyamul Bidh ini dilaksanakan pada Bulan September 2020 bertepatan dengan Muharam 1442 H, puasa ini dapat dikerjakan pada tanggal 1-3 September. Selain itu, pada akhir September juga sudah masuk pada hari pertama Ayyamul Bidh bulan Safar, yaitu 30 September 2020. Jadi dalam waktu dekat ini kita dianjurkan untuk puasa Ayyamul Bidh bulan Safar.

Ketentuan puasa Ayyamul Bidh ini dirujuk dari teladan Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadist yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas r.a. : “Rasulullah SAW biasa berpuasa pada Ayyamul Bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar,” (H.R. Nasai).

Dirujuk dari sabda Nabi Muhammad SAW: “Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun,” (H.R. Bukhari). Sekarang kita tahu kan, kenapa kita dianjurkan berpuasa? Ya karena kita akan mendapat pahala seperti berpuasa sepanjang tahun.

Niat puasa Ayyamul Bidh bisa dilafalkan ketika fajar sudah terbit, selama belum melakukan semua hal yang bisa membatalkan ibadah puasa. Atau pada malam hari seperti di bulan Ramadhan. Niat puasa bisa diniatkan dalam hati atau dilafalkan. Jika dilafalkan berikut niatnya : “Nawaitu shouma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta’ala”

Artinya: “Saya berniat berpuasa besok pada Ayyamul Bidh, sunah karena Allah Ta’ala.”

Nah, jadi begitu Sobat Pio pembahasan tentang puasa Ayyamul Bidh. Bagi Sobat Pio yang tidak berhalangan dianjurkan untuk puasa, ya. Semoga kita mendapatkan pahala dan keutamaan dari puasa ini. Aamiin. (RED_MNR&SBI)

Sumber: https://tirto.id/

https://m.bisnis.com/

Ayo Puasa Di Bulan Muharram


Hai Sobat Pio, kali ini kita akan bahas hikmah puasa Tasu’a dan ‘Asyura. Apa sih puasa Tasu’a dan ‘Asyura itu? Gimana niatnya? Apa kelebihannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mari simak kelanjutannya.

Sobat Pio, puasa ‘Asyura adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram dan merupakan puasa sunnah yang utama. Sedangkan puasa Tasu’a merupakan puasa pada tanggal 9 Muharram. Sebenarnya ada tiga tingkatan, seperti yang dikatakan Al-Imam Asy-Syaukani dan Al-Hafidz Ibnu Hajar, yaitu “Yang pertama puasa di hari ke-10 saja, tingkatan kedua puasa di hari ke-9 dan ke-10, tingkatan ketiga puasa di hari 9,10, dan 11.”

Puasa tanggal 9 dan 11 merupakan pembeda dari Kaum Yahudi. Karena Kaum Yahudi pada tanggal 10 juga melakukan puasa, untuk  memperingati selamatnya Nabi Musa A.S. beserta pengikutnya, tenggelamnya Fir’aun beserta pengikutnya dan juga untuk berjaga-jaga jika tanggal 10 jatuh pada tanggal 9 atau 11 (karena kesalahan hisab). Bulan Muharram adalah bulan mulia. Saat Rasulullah ditanya puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan,  jawaban Beliau adalah puasa pada Bulan Allah SWT.  (Muharram).

Hikmah dari puasa tersebut, yaitu yang pertama, melaksanakan sunnah Rosul. Nabi Muhammad SAW. menganjurkan untuk berpuasa pada hari tersebut. Bahkan Beliau menyengaja untuk melaksanakan puasa ini. Kedua, sebagai wujud syukur karena Allah SWT. telah menyelamatkan hamba-Nya. Pada tanggal 10 ini ada banyak peristiwa baik salah satunya, diselamatkannya Nabi Musa A.S. beserta pengikutnya dari Fir’aun dan juga taubat Nabi Muhammad SAW. diterima oleh Allah SWT. Ketiga, menghapus dosa setahun yang lalu. Rasulullah SAW. bersabda, “Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah SWT. agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim). Imam an-Nawawi berkata “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar.” (Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279).

Berikut niat puasa di bulan Muharram :

1.Bacaan niat puasa Tasu’a

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatit taasuu’aa sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: saya niat puasa Tasu’a, sunnah karena Allah Ta’ala

2.Bacaan niat puasa ‘Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاء سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma fii yaumi aasyuuroo’ sunnatan lillaahi ta’aalaa

Artinya: saya niat puasa ‘Asyura, sunnah karena Allah Ta’ala

Nah,  jadi seperti itu Sobat Pio. Jangan lupa puasa pada hari Tasu’a dan ‘Asyura yaa. Semoga mendapat hikmahnya dan rahmat dari Allah SWT. (RED_MNR&SBI)

 

Sumber:

Sejarah Kalender Hijriah


Halo Sobat Pio, gimana kabar kalian? Kali ini kita akan membahas tentang sejarah tahun Hijriah. Pasti kalian penasaran kan? Mari kita simak sama-sama tentang sejarah tahun Hijriah. Sobat Pio, gak nyangka ya, sebentar lagi kita udah memasuki tahun baru 1442 Hijriah. Yang bertepatan pada tanggal 19 – 20 Agustus 2020 Masehi. Gak kerasa, Bumi sudah makin tua ya.
Tahun Baru Islam bermula pada masa Umar bin Khattab R.A. tepatnya 6 tahun pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kalender ini juga berbeda dari kalender Masehi, karena kalender ini berpatokan pada rotasi bulan. Yang membuat kalender Masehi dan kalender ini berbeda 11-12 hari. Tahun baru Islam merupakan tahun baru yang diperingati oleh umat Muslim di seluruh dunia yang menandakan bergantinya Tahun Hijriah sebagaimana kalender Islam. Nama Tahun Hijriah sendiri berasal dari mulainya tahun tersebut pada saat hijrahnya Rasulullah SAW. ke Madinah.
Asal mula pembentukan Kalender Hijriah yaitu, terdapat kendala saat mengarsipkan surat oleh Abu Musa Al-Asy’ari. Dari situ Khalifah Umar bin Khattab memutuskan untuk membuat Kalender Islam yang akan digunakan oleh kaum Muslimin. Khalifah Umar mengumpulkan para ahli dan sahabat Rasulullah untuk melakukan musyawarah menetapkan kalender tersebut. Penentuan tahun 1 Hijriah, terdapat beberapa usulan untuk menentukan awal tahun Hijriah. Ada yang mengusulkan saat kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan saat pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul. Namun yang dipilih adalah saat Rasulullah hijrah ke Madinah yang mana diusulkan oleh Ali bin Abi Thalib, dan juga berdasarkan firman Allah SWT.
”Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu mengutarakan alasan. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah:108).
Tahun Hijriah dimulai pada bulan Muharram, karena pada bulan ini Nabi berniat untuk melakukan hijrah, dan merupakan salah satu bulan yang istimewa. Jadi Sobat Pio, itu tadi sejarah singkat mengenai pembentukan Kalender Hijriah. Semoga dalam tahun baru ini kita menjadi orang yang lebih baik lagi dan senantiasa mawas diri. Jangan lupa juga untuk puasa di Bulan Muharram ya. (RED_MNR&SBI)
Sumber : – https://banjarmasin.tribunnews.com
– https://muslim.or.id
– https://tirto.id

Idul Adha Pada Masa Pandemi


Hai Sobat Pio, besok udah hari raya lagi nih. Yups, Hari Raya Idul Adha 1441 H yang jatuh pada tanggal 31 Juli 2020. Tapi karena Covid-19, Idul Adha kali ini berbeda dengan sebelumnya. Terus gimana dong suasana Idul Adha kali ini? Apa aja sih yang beda? untuk lebih jelasnya simak pembahasan berikut ini.

Idul adha adalah hari raya umat Islam yang diperingati sebagai peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya untuk disembelih. Kemudian Allah SWT menggantikan putra nabi Ibrahim dengan seekor domba untuk disembelihnya. Hari Raya ini bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, yaitu pada bulan Dzulhijjah.

Perbedaan Idul Adha tahun ini lumayan banyak.  Mulai dari pelaksanaan ibadah haji, sholat Idul Adha, dan penyembelihan kurban. Tahun ini Arab Saudi membatasi jumlah jemaah haji dan juga menutup Masjidil Haram saat Hari Arafah dan Hari Raya Idul Adha. Sedangkan di Indonesia, menurut fatwa MUI pelaksanaan Idul Adha Tahun ini harus sesuai protokol kesehatan dan peraturan perundang – undangan.

Pelaksanaan salat Idul Adha harus sesuai dengan protokol kesehatan, pengurus atau penyelenggara harus menyediakan keperluan seperti sabun dan air untuk cuci tangan, serta menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan tetap jaga jarak.

Untuk pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, panitia kurban menghimbau  kepada umat Islam yang tidak terkait langsung dengan proses pelaksanaan kurban supaya tidak berkerumun menyaksikan proses pemotongan hewan.

“Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan protokol kesehatan dalam menjalankan ibadah kurban agar dapat terlaksana sesuai dengan ketentuan syari’at Islam dan terhindar dari potensi penularan Covid-19,” demikian tertulis dalam bagian lain fatwa tersebut.

Ibadah kurban juga dapat dilakukan dengan cara taukil, yaitu orang yang ingin berkurban memberikan sejumlah uang untuk membeli hewan kurban, merawat, meniatkan, menyembelih, dan membagikan daging kurban. Tetapi kita juga harus mempercayakannya kepada lembaga atau seseorang yang bisa dipercaya dan sesuai syari’at.

Jadi, pembahasan kali ini hanya seputar itu ya Sobat Pio. Jangan lupa untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mematuhi himbauan pemerintah ya. Selamat Hari Raya Idul Adha, semoga kita terhindar dari sifat hewani dan senantiasa taat pada Allah Swt. (RED_MNR&SBI)

 

 

Sumber : https://m.bisnis.com

https://amp.kompas.com

 

 

Semangat Ramadan Ditengah Pandemi Corona


Hai Sobat Pio, bagaimana kabarnya hari ini? Pastinya sehat selalu ya. Nah Sobat Pio, sekarang ini kita sudah memasuki bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah bulan suci yang dinantikan oleh umat islam di seluruh dunia. Bulan Ramadan merupakan kesempatan bagi kita untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena di bulan suci ini memiliki keutamaan yang berbeda dari bulan – bulan sebelumnya.

Namun bulan Ramadan tahun ini berbeda, karena sekarang kita menjalankan ibadah puasa ramadan di tengah wabah pandemi corona. Selain itu aktivitas beribadah juga dianjurkan dilakukan di rumah saja, karena kita harus menaati peraturan pemerintah untuk menjaga jarak dengan orang lain atau physical distancing. Walaupun Ramadan tahun ini berbeda, kita harus tetap semangat dalam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan ini.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari bulan suci Ramadan tahun ini. Salah satunya adalah sebagian dari kita bisa berkumpul bersama dan lebih memiliki banyak waktu untuk melaksanakan ibadah puasa bersama dan hal – hal yang lainnya bersama keluarga. Tetapi, sebagian dari kita ada yang tidak bisa melaksanakan ibadah puasa bersama keluarga karena berada di luar kota dan tidak bisa pulang kampung karena pemerintah melarang kita untuk mudik. Namun, hal itu bukan berarti membuat kita tidak semangat dalam menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Nah Sobat Pio sekian dulu artikel kali ini. Semoga Sobat Pio diberi kesehatan dan selalu semangat dalam menjalani ibadah puasa di tengah pandemi corona ini. Semoga pandemi corona ini cepat berlalu supaya kita semua bisa merayakan hari raya dengan berkumpul bersama keluarga dan teman – teman. (RED_NLS)

Sumber : https://thr.kompasiana.com

Ramadan Yang Berbeda


Hai sobat pio gimana kabarnya nih? Semoga selalu sehat ya. Pasti sobat pio tau saat ini umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sudah memasuki bulan Ramadan mulai Jumat, 24 April 2020. Namun, menjalani ibadah puasa kali ini dirasa berbeda karena berlangsung di tengah pandemi COVID-19. Meskipun pandemi masih berjalan, umat Islam harus tetap menjaga kesehatan badan dan pikiran agar khusyuk menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, ada beberapa tradisi yang biasa dilakukan di bulan puasa yang sekarang tidak bisa kita jalani. Seperti buka puasa bersama, salat tarawih di masjid, ziarah ke makam anggota keluarga, berkunjung ke rumah orangtua dan kerabat, ngabuburit, berburu takjil dan masih banyak lagi. Hal ini tentu saja membuat puasa kita kali ini kurang lengkap, karena adanya pandemi COVID-19 ini. Pandemi COVID-19 memang membuat banyak hal dibatasi di bulan Ramadan ini. Berbagai kebiasaan dan tradisi mungkin tak bisa kita lakukan untuk sementara waktu, tapi mudah-mudahan tidak mengurangi nilai ibadah puasa kita. Menjaga kesehatan tetap yang terpenting, sambil berharap dan berdoa semoga pandemi ini segera berlalu.

Nah, segitu saja artikel kali ini semoga sobat pio senantiasa sehat dan semangat dalam menjalani puasanya. Dan semoga pandemi COVID-19 ini cepat teratasi agar kita bisa kembali menjalani aktivitas seperti sedia kala. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat pio. Marhaban ya Ramadan.(RED_ADS)

Sumber : https://m.liputan6.com